• Sabtu, 10 Desember 2022

Kesedihan dapat Meningkatkan Interaksi Sosial

- Sabtu, 6 Agustus 2022 | 19:30 WIB
Kesedihan dapat Meningkatkan Interaksi Sosial (Pixabay)
Kesedihan dapat Meningkatkan Interaksi Sosial (Pixabay)

Secara umum, kebahagiaan meningkatkan interaksi sosial yang positif antara orang lain. Orang yang Bahagia lebih tenang, lebih tegas, dan terampil dalam berkomunikasi. Mereka tersenyum lebih banyak, dan mereka umumnya dianggap sebagai orang yang lebih menyenangkan daripada orang sedih.

Namun, dalam situasi di mana orang haru berkomunikasi dengan lebih berhati-hati, kurang tegas dan lebih penuh perhatian. Gaya komunikasi yang intens dan suasana hati yang sedih dapat membantu ketika di situasi ini.

Dalam satu studi yang dilakukan Joseph P. Pargos dan rekannya. Peserta yang pertama kali melihat film bahagia atau sedih secara tak terduga diminta untuk pergi dan meminta file dari seseorang di kantor yang berada di sebelah ruangan kontrol.

Permintaan mereka seperti suara dan gambar direkam oleh perekam tape tersembunyi. Hasil Analisis menunjukkan bahwa suasana hati yang menyedihkan menghasilkan orang yang lebih sopan, rumit, dan menjaga value mereka. Sedangkan mereka dalam suasana hati yang bahagia lebih langsung saat berkomunikasi dan kurang sopan serta strategis.

Mengapa ini bisa terjadi?

Dalam situasi interpersonal yang tidak pasti dan tak terduga, orang perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap persyaratan situasi untuk merumuskan strategi komunikasi yang paling tepat. Mereka harus bisa membaca isyarat dari situasi dan merespon dengan sesuai.

Orang sedih lebih terfokus pada isyarat eksternal dan tidak akan hanya bergantung pada kesan pertama mereka, yang bahagia orang lebih cenderung untuk percaya.

Dalam eksperimen lain, Josep dan rekannya menemukan bahwa orang dalam suasana hati yang sedih juga lebih persuasif, menghasilkan argumen yang lebih efektif dan konkret untuk mendukung posisi mereka, dan lebih mampu meyakinkan orang lain daripada orang dalam suasana hati yang positif.

Berikut adalah contoh lain. Dalam eksperimen ilmu sosial, para peneliti menggunakan permainan ultimatum untuk mempelajari sesuatu seperti kerjasama, kepercayaan, dan kemurahan hati. Mereka memberi pemain uang dan memberitahu mereka untuk mengalokasikan sebanyak yang mereka inginkan untuk orang lain yang memiliki kekuatan untuk menerima atau menolak tawaran.

Jika tawaran itu ditolak, tidak ada pihak yang mendapat apa pun. Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa mereka dalam peran pemberi tidak hanya didorong oleh memaksimalkan manfaat bagi diri mereka sendiri. Namun, dampak mood pada keputusan tersebut belum diukur sebelumnya.

Halaman:

Editor: Mas Bro

Tags

Artikel Terkait

Terkini

6 Tips Tidur yang Efektif

Sabtu, 19 November 2022 | 19:23 WIB

Sejarah Hari Pahlawan pada 10 November

Selasa, 8 November 2022 | 20:00 WIB

Mau Lolos CPNS 2023? Cek Syaratnya Berikut Ini

Rabu, 2 November 2022 | 18:30 WIB

Fungsi dan Pengertian ANBK Beserta Kisi-kisi Soalnya

Selasa, 18 Oktober 2022 | 18:23 WIB

5 Tanda Kamu Mungkin Kecanduan Pornografi

Kamis, 11 Agustus 2022 | 10:30 WIB

Benarkah Film Porno Mempengaruhi Kesehatan

Kamis, 11 Agustus 2022 | 08:30 WIB

6 Tips Tidur yang Efektif

Selasa, 9 Agustus 2022 | 16:30 WIB

Aktivitas Sehat Pagi Hari, Cukup 5 Menit

Selasa, 9 Agustus 2022 | 15:30 WIB

Fakta Penting Tentang Tidur

Selasa, 9 Agustus 2022 | 12:30 WIB

Kenapa Saat Malam Lebih Kreatif?

Selasa, 9 Agustus 2022 | 11:30 WIB

Kesedihan Dapat Meningkatkan Judgement

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 20:30 WIB

Kesedihan dapat Meningkatkan Interaksi Sosial

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 19:30 WIB

Kesedihan Dapat Meningkatkan Memori Kamu

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 18:30 WIB

Cara Sehat Mengatasi Perpisahan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 17:30 WIB

Terpopuler

X